Sabtu, 10 November 2012

Asam basa organik



Asam organik sebagai asam lemah
Sebagai tujuan dari topik ini, kita akan melihat definisi dari asam sebagai “substansi yang memberi ion (proton) ke yang lain”. Dapat dilihat bagaimana mudahnya asam melepas ion hidrogen ke molekul air saat mereka larut dalam air.
Asam pada larutan memiliki kesetimbangan sebagai berikut:
Sebuah atom hidroksinium dibentuk bersama-sama dengan anion (ion negative) dari asam.
Persamaan ini kadang-kadang disederhanakan dengan menghilangkan air untuk menekankan ionisasi dari asam.
Jika anda menuliskan seperti ini, anda harus memasukkan simbok – “(aq)”. Dengan menuliskan H+(aq) mengartikan bahwa molekul hidrogen berikatan dengan air sebagai H3O+. Ion hidrogen selalu berikatan dengan sesuatu pada saat reaksi kimia.
Maksud dari asam organik merupakan asam lemah adalah karena ionisasi sangat tidak lengkap. Pada suatu waktu sebagian besar dari asam berada di larutan sebagai molekul yang tidak terionisasi. Sebagai contoh pada kasus asam etanoik, larutan mengandung 99% molekul asam etanoik dan hanya 1 persen yang benar benar terionisasi. Posisi dari kesetimbangan menjadi bergeser ke arah kiri.
Membandingkan kekuatan asam lemah
Kekuatan asam lemah diukur dengan skalapKa. Semakin kecil semakin kuat tingkat keasamannya.
Dibawah ini merupakan 3 buah senyawa dan nilai pKa mereka.
Ingat semakin kecil pKa semakin tinggi tingkat keasaman. Bandingkan dengan dua asam etanoik yang lain anda akan melihat bahwa phenol sangat lemah dengan pKa 10.00, dan etanol lebih lemah lagi pKa sekitar16 sehingga tidak dapat dianggap lagi sebagai asam.
Mengapa asam-asam tersebut asam?
Dalam setiap kasus, ikatan antara oksigen dan oksigen pada -OH terputus. Sehingga hanya sisa molekul yang dilambangkan sebagai “X”:
Jadi bila ikatan yang sama putus dalam setiap kasus, mengapa ketiga contoh senyawa diatas menghasilkan tingkat asam yang berbeda beda?
Perbedaan kekuatan asam antara asam karboksilat, fenol dan alkohol.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan
Dua faktor yang mempengaruhi ionisasi dari asam adalah:
  • Kekuatan dari ikatan yang diputuskan,
  • kestabilan ion yang terbentuk.
Dalam kasus ini, anda memutus ikatan dari molekul yang sama (antara O dan H) jadi bisa dianggap kekuatan ikatan yang diputuskan adalah sama.
Faktor yang paling penting dalam menentukan kekuatan relatif dari molekul adalah pada sifat dari ion ion yang terbentuk.Anda selalu mendapatkan ion hidroksinium jadi anda tidak perlu membandingkan itu. Yang perlu andabandingkan adalah sifat dari anion (ion negatif) yang berbeda-beda pada setiap kasus.
Asam Etanoik
Asam etanoik memiliki struktur:
Hidrogen yang mengakibatkan sifat asam adalah hidrogen yang terikat dengan oksigen. Saat asam etanoik terionisasi terbentuklah ion etanoat, CH3COO-. Anda mungkin menyangka bahwa struktur dari ion etanoat adalah seperti dibawah ini, namun dari pengukuran panjang ikatan menunjukkan bahwa ikatan karbon dengan kedua oksigen memiliki panjang yang sama. Dengan panjang berkisar antara panjang ikatan tunggal dan ikatan rangkap..
Untuk menjelasakan mengapa, anda harus melihat ikatan ion etanoat secara detail.
Sama seperti ikatan rangkap yang lain, ikatan karbon oksigen dibuat di dua bagian yang berbeda. Sepasang elektron ditemukan pada garis diantara dua nukleus yang disebut sebagai ikatan sigma. Sepasang elektron yang lain ditemukan diatas dan dibawah dari bidang dalam bentuk ikatan pi. Ikatan pi dibuat dari overlap orbital p antara karbon dan oksigen.
Pada ion etanoat, Salah satu dari elektron bebas dari oksigen yang negarif berada pada keadaan hampir pararel dengan orbita;-orbital p tersebut dan mengakibatkan overlap antara atom oksigen yang lain dan atom karbon .
Sehingga terjadi delokalisasi sistem pi dari keseluruhan -COO- namun tak seperti yang terjadi pada benzene.
Semua atom bebas dari oksigen telah di hilangkan dari gambar untuk lebih sederhana.
Karena Hidrogen lebih elektronegatif dari karbon, delokalisasi sistem terjadi sehingga elektron lebih lama berada pada daerah atom oksigen.
Lalu dimana letak muatan negatif dari keseluruhan molekul? Jwabannya adalah tersebar diantara keseluruhan molekul -COO- ,namun dengan kemungkinan terbesar menemukannya pada daera antara kedua atom oksigen.
Semakin anda menyebarkan muatan, semakin stabil sebuah ion. Atau pada kasus ini, jika anda mendelokalisasikan muatan negatif ke beberapa atom, muatan tersebut akan menjadi lebih tidak tertarik ke ion hidrogen kecenderungan membentuk ulang asam etanoik pun berkurang.
Ion etanoat dapat digambarkan secara sederhana sebagai:
Garis putus-putus mewakili delokalisasi. Muatan negatif ditulis ditengah untuk menggambarkan bahwa muatan tersebut tidak terlokalisasi pada salah satu atom oksigen.
Fenol
Fenol memiliki -OH terikat pada rantai benzennya.
Saat ikatan hidrogen-oksigen pada fenol terputus, anda mendapatkan ion fenoksida , C6H5O-.
Delokalisai juga terjadi pada ion ini. Pada saat ini, salah satu dari antara elektron bebas dari atom oksigen overlap dengan elektron dari rantai benzen.
Overlap ini mengakibatkan dislokalisasi. Dan sebagai hasil muatan negatif tidak hanya berada pada oksigen tetapi tersebar ke seluruh molekul.
Lalu mengapa fenol lebih lemah daripada asam etanoik? Pada ion etanoat, delokalisasi terpusat pada daerah antara 2 atom oksigen.Sistem yang terdelokalisasi membagi muatan negatif diantara kedua atom oksigen. Tidak ada oksigen yang lebih kuat menarik hidrogen ion.
Pada ion fenoksida, atom oksigen tunggal masih merupakan yang paling elektronegatif dan sistem yang terdelokalisasi terpusat pada daerah oksigen tersebut. Sehingga atom oksigen memiliki muatan yang paling negatif, walaupun sebenarnya tidak memiliki muatan sebanyak itu apabila delokalisasi tidak terjadi.
Delokalisasi membuat ion fenoksida lebih stabil dari seharusnya sehingga fenol menjadi asam. Namun delokalisasi belum membagi muatan dengan efektif. Muatan negatif disekitar oksigen akan tertarik pada ion hidrogen dam membuat lebih mudah terbentuknya fenol kembali. Sehingga itu fenol merupakan asam yang sangat lemah.
Etanol
Etanol, CH3CH2OH, merupakan asam yang sangat lemah sampai sampai-sampai anda bisa menganggapnya bukan sebagai asam. Jika ikatan oksigen dan hidrogen terputus dan melepaskan ion, ion etokside terbentuk.
Tidak ada cara untuk mendelokalisasi ikatan negatif yang terikat kuat dengan atom oksigen. Muatan negatif tersebut akan sangat menarik atom hidrogen dan etanol akan dengan mudah terbentuk kembali.
Variasi dalam kekuatan asam dari beberapa asam karboksilik.
Anda mungkin akan berpikir bahwa semua asam karboksilik mempunyai kekuatan yang sama karena memiliki delokalisasi yang sama di sekitar -COO- untuk membuat ion lebih stabil dan lebih tidak mudah terikat dengan ion hidrogen.
Namun kenyataan yang ada asam karboksilik memiliki berbagai variasi keasaman.


pKa
HCOOH3.75
CH3COOH4.76
CH3CH2COOH4.87
CH3CH2CH2COOH4.82
Perlu diingat bahwa semakin tinggi pKa, semakin lemah sebuah asam. Mengapa asam etanoik lebih lemah dari adam metanoik? Semuanya tergantung pada stabilitas dari anion yang terbentuk. Kemungkinan untuk mendislokalisasikan muatan negatif. Semakin terdislokalisasi, semakin stabil ion tersebut dan semakin kuat sebuah asam.
Ion metanoat dari asam metanoik:
Satu-satunya perbedaan antara ini dan ion etanoat adalah kehadiran CH3 pada etanoat. Alkil mempunyai kecenderungan mendorong elektron menjauh sehingga betambahnya muatan negatif pada -COO- . Penambahan muatan membuat ion lebih tidak stabil karena membuatnya lebih mudah terikat dengan hidrogen. Sehingga asam etanoik lebih lemah daripada asam metanoik.
ALkil yang lain juga memiliki efek “mendorong elektron” sama seperti pada metil sehingga kekuatan asam propanoik dan asam butanoik mirip dengan asam etanoik.
Asam dapat diperkuat dengan menarik muatan dari -COO- . YAnda dapat melakukan hal ini dengan menambahkan atom elektronegatif seperti klorida pada rantai.
Pada tabel berikut, diperlihatkan semakin anda mengikatkan klorin semakin asam molekul.


pKa
CH3COOH4.76
CH2ClCOOH2.86
CHCl2COOH1.29
CCl3COOH0.65
Asam Trikloroetanoik Tmerupakan asam yang cukup kuat.
Mengikatkan halogen yang berbeda juga membuat perbedaan. Florin merupakan atom paling elektronegatif sehingga anda dapat menebak bahwa dengan florin semakin tinggi tingkat keasaman.


pKa
CH2FCOOH2.66
CH2ClCOOH2.86
CH2BrCOOH2.90
CH2ICOOH3.17




Permasalahan : Mengapa pada asam etanoik, Hidrogen yang menyebabkan sifat asam adalah hidrogen yang terikat dengan oksigen, apa tidak mungkin hidrogen yang berasal dari CH3 yang memberikan sifat asam ?








Sabtu, 03 November 2012

Reaksi Oksidatif Alkohol

 
 
Alkohol merupakan senyawa yang penting dalam kehidupan sehari-hari karena dapat digunakan sebagai zat pembunuh kuman, bahan bakar maupun pelarut. Dalam laboratorium dan industri alkohol digunakan sebagai pelarut dan reagensia. Alkohol dapat membentuk ikatan hidrogen antara molekul-molekulnya maupun dengan air. Hal ini dapat mengakibatkan titik didih maupun kelarutan alkohol dalam air cukup tinggi. Selain dipengaruhi oleh ikatan hidrogen, kelarutan alkohol juga dipengaruhi oleh panjang pendeknya gugus alkil, banyaknya cabang dan banyaknya gugus hidroksil yang terikat pada atom karbon. Seperti air, alkohol adalah asam atau basa sangat lemah. Pada larutan encer dalam air, alkohol mempunyai pKa yang kira-kira sama dengan pKa air. Namun dalam keadaan murni keasaman alkohol jauh lebih lemah daripada air. Hal ini disebabkan karena alkohol mempunyai tetapan elektrik yang rendah. Fenol merupakan asam yang jauh lebih kuat daripada alkohol. Hal ini disebabkan karena anion yang dihasilkan oleh resonansi, dengan muatan negatif yang disebar (delokalisasi) oleh cincin aromatik.
Alkohol dapat bereaksi dengan logam alkali (natrim dan kalium) menghasilkan alkoksida. Reaksi yang terjadi adalah reaksi redoks. Makin besar gugus alkali (R-), makin berkurang kareaktifannya.
Penamaan alkohol dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : nama trivial diberi nama alkil-alkohol (alkohol sebagai nama pokok dan rantai karbonnya sebagai gugus). Cara kedua berdasarkan nama sistematik, nama sistematik diberi akhiran “ol” digunakan dimana gugus –OH terikat dengan posisi –OH diberi nomor terkecil dari ujung rantai karbon dia terikat. Sistem tatanama, selain yang disebutkan diatas ialah dengan menganggap bahwa semua nama alkohol adalah merupakan turunan dari metanol yang disebut karbinol.
Berdasarkan peredaan letak terikatna gugus –OH pada atom C. Alkohol dibedakan menjadi tiga, yaitu alkohol primer, alkohol sekunder dan alkohol tersier. Alkohol primer yaitu jika gugus –OH terikat pada atom C primer (atom C yang mengikat 1 atom C yang lain secara langsung). Alkohol sekunder yaitu jika gugus –OH terikat pada atom C sekunder (atom C yang mengikat secara langsung dua atom C yang lain). Alkohol tersier yaitu jika gugus –OH terikat pada atom C tersier (atom C yang engikat secara langsung tia buah atom C yang lain. Secara fisik akan sulit membedakan antara alkohol primer, sekunder dan tersier. Karena bau dan warna ketiganya dapat dikatakan sama. (Ghalib, 2010).
Alcohol diklasifikasikan ke dalam 3 kelompok yaitu:
1.      Alcohol primer, yaitu alcohol dengan gugus –OH yang terikat pada atom C primer. Missal, methanol, etanol, n-propanol, n-butanol, dll.
                                               
CH3CH2CH2OH                                            
n-propanol                              
2.      Alcohol sekunder, yaitu alcohol dengan gugus –OH yang terikat pada atom C sekunder. Missal 2-propanol (isopropyl alcohol).
                                                                                                                       
                        CH3CHOH                            
                               CH3                                 
                        2-propanol                  
                                                                       
3.      Alcohol tersier, yaitu alcohol dengan gugus –OH yang terikat pada atom C tersier. Missal 2-metil-2-propanol (ters-butil alkohol).
                               CH3
                        CH3COH
                               CH3
                        2-metil-2-propanol
                        (ters-butil alcohol)
Fenol mempunyai gugus seperti alkohol akan tetapi gugus fungsinya melekat langsung pada cincin aromatik. Tata namanya biasanya dipergunakan nama yang lazim dengan akhiran –ol. Fenol mempunyai sifat-sifat yaitu mempunyai sifat asam. Atom H dapat diganti tak hanya dengan logam (seperti alkohol tetapi juga dengan basa, terjadi fenolat. Sifat asam dar ifenol-fenol lemah dan fenolat ini dapat diuraikan dengan asam karbonat. Mudah dioksidasi, juga oleh O­­2 udara dan memberikan zat-zat warna, mereduksi larutan fehling dan Ag-beramoniak. Memberi reaksi-reaksi berwarna dengan FeCl­3. Mempunyai sifat antiseptik, beracun, mengikis, Ka = 1 X 10-10. (Riawan, 1990).
Fenol biasanya digunakan sebagai antiseptikum (dimana hal ini mungkin karena mempunyai sifat mengkoagulasu protein) koefisien fenol (kf) : perbandingan kons. Fenol/kons. Zat untuk mematikan suatu macam bakteri dalam waktu yang sama dan juga sebagai sintesis misalnya : asam salisilat, aspirin, dan fenolftalein. (Riawan, 1990).
Berikut ini, terdapat 2 uji yang berkaitan dengan identifikasi alcohol dan fenol, yaitu:
1.      Uji Lucas
Uji Lucas dalam alkohol adalah tes untuk membedakan antara alkohol primer, sekunder dan tersier . Hal ini didasarkan pada perbedaan reaktivitas dari tiga kelas alkohol dengan hidrogen halida . Alkohol tersier bereaksi dengan reagen Lucas untuk menghasilkan kekeruhan walaupun tanpa pemanasan, sementara alkohol sekunder melakukannya dengan pemanasan. Alkohol primer tidak bereaksi dengan reagen Lucas.
Reagen melarutkan alkohol, menghilangkan gugus OH, membentuk karbokation. Kecepatan reaksi ini sebanding dengan energi yang dibutuhkan untuk membentuk karbokation, sehingga tersier, benzilik, dan karbokation allylic bereaksi cepat, sementara yang lebih kecil, substitusi kurang, alkohol bereaksi lebih lambat. Hal ini disebabkan oleh karbokation segera bereaksi dengan ion klorida yang mudah larut dalam chloroalkane.
Reaksi yang terjadi adalah:
2.      Uji Asam Kromat
Alkohol primer dapat teroksidasi menjadi asam karboksilat dengan adanya asam kromat. Bilangan oksidasi Cr +6 pada asam kromat, yang berwarna merah kecoklatan, tereduksi menjadi Cr +3, yang berwarna hijau. Alkohol sekunder teroksidasi menjadi keton oleh asam kromat. Alkohol tersier tidak dapat teroksidasi oleh asam kromat. Oleh karena itu reaksi ini di satu sisi dapat membedakan alcohol primer dan sekunder, dan di sisi lain membedakan alkohol primer dan sekunder dengan alkohol tersier. Sedangkan fenol biasanya teroksidasi menjadi tar berwarna coklat oleh asam kromat.
Sifat-sifat fisika dari alkohol :
• Titik didih alkohol lebih tinggi dibanding dengan titik didih alkana yang mempunyai atom C yang sama. Hal ini karena dalam keadaan cair molekul-molekul alkohol terasosiasi dan biasanya membentuk jembatan.
• Makin banyak atom C, makin tinggi titik didihnya.
• Alkohol BD nya lebih tinggi daripada alkan, tetapi lebih rendah daripada air
• Alkohol-alkohol rendah.
 (Marappung : 2002)
 
  Permasalahan: 
Semakin panjang gugus alkil maka kepolaran alcohol akan semakin berkurang,,apakah karna semakin berkurangnya kepolaran alcohol menjadi salah satu penyebab mengapa alkohopl tersier tidak dapat di oksidasi,sebagaimana kita ketahui alcohol primer dan sekunder dapat di oksidasi?
 
 
 
 
 
 
 

Jumat, 02 November 2012

Alkohol

Alkohol adalah senyawa organik yang mengandung satu atau lebih gugus hidroksil (-OH). Dengan demikian alkohol dapat dianggap sebagai turunan dari alkana dengan penggantian satu atau lebih atom H pada alkana oleh gugus - OH.
Berdasarkan jumlah gugus -OH yang terdapat dalam tiap molekulnya, alkohol dapat dibedakan :

  1. Alkohol monohidrik, yaitu alkohol yang mengandung satu gugus -OH.
  2. Alkohol dihidrik, yaitu alkohol yang mengandung dua gugus -OH.
  3. Alkohol trihidrik, yaitu alkohol yang mengandung tiga gugus -OH.
  4. Alkohol polihidrik, yaitu alkohol yang mengandung empat atau lebih gugus -OH
Alkohol monohidrik dapat dituliskan dengan rumus umum CnH2n+2O. Tetapi karena gugus fungsional pada alkohol monohidrik berupa gugus hidroksil (-OH),
maka rumus umum alkohol dapat dituliskan : CnH2n + 1 OH atau R - OH, dimana n ³ 1 dan R dapat berupa alkil, alkil tersubstitusi, dan alil.


Klasifikasi dan Tatanama Alkohol
Alkohol monohidrik dapat diklasifikasikan berdasarkan pada atom karbon yang mengikat gugus -OH, yaitu :
  1. Alkohol primer (10 ) adalah alkohol yang gugus - OH nya diikat oleh atom C primer, yaitu atom C yang berikatan dengan satu atom C yang lain.
  2. Alkohol sekunder ( 20 ) adalah alkohol yang gugus -OH nya diikat oleh atom C sekunder, yaitu atom C yang berikatan dengan dua atom C yang lain.
  3. Alkohol tersier (30 ) adalah alkohol yang gugus -OH nya diikat oleh atom C tersier , yaitu atom C yang berikatan dengan tiga atom C yang lain.

Contoh:

Tatanama alkohol
Untuk memberikan nama pada alkohol monohidrik, dikenal adanya tiga sistem tatanama, yaitu:
1. Tatanama Trival (tatanama Umum)
Menurut tatanama ini, alkohol diberi nama dengan terlebih dahulu menyebut nama gugus alkil yang mengikat gugus -OH, kemnudian diikuti kata alkohol yang ditulis terpisah. Kalau anda lupa dalam memberi nama gugus alkil ini, anda dapat melihat dan membaca kembali Modul-1 tentang isomeri dan tatanama.
2. Tatanama IUPAC (Tatanama Sistematika)
Tatanama ini pada dasarnya menggunakan aturan-aturan yang berlaku untuk memberikan nama pada alkana (anda dapat melihat modul-1 tentang isomeri dan tatanama). alkohol diberi nama dengan menganti akhiran -a pada alkana yang bersesuaian dengan akhiran -ol. Dalam hal ini pemerian nomor pada rantai karbon yang terpanjang dimulai dari ujung rantai yang letaknya paling dekat dengan atom C yang mengikat gugus -OH.
  1. Tatanama Karbinol
Menurut tatanama ini suku pertama dari alkohol monohidrik disebut karbonal. Dengan demikian untuk suku-suku yang lebih tinggi diberi nama sebagai turunan (derivat) dari karbinol. yang satu atau lebih atom H dari CH3 digantikan oleh gugus yang lain.
Sifat Fisik alkohol
a. Alkohol monohidroksi suku rendah (jumlah atom karbon 1-4 ) berupa cairan tidak berwarna dan dapat    larut dalam air dengan segala perbandingan.
b. Kelarutan alkohol dalam air makin rendah bila rantai hidrokarbonnya makin panjang.
c. Makin tinggi berat molekul alkohol, makin tinggi pula titik didih dan viskositasnya.
d. Alkohol yang mengandung atom karbon lebih dari 12 berupa zat padat yang tidak berwarna.
e. Alkohol suku rendah tidak mempunyai rasa, akan tetapi memberikan kesan panas dalam mulut.

permasalahan: pada suhu kamar alkohol dengan atom C1 sampai C4 berwujud gas atau cair sedangkan C5 sampai C9 berwujud cairan kental dan C10 keatas berwujud padat. apakah jika selain pada suhu kamar wujud alkohol itu sama,dan apa yang mempengaruhi alkohol sehingga pada suhu kamar wujudnya berbeda-beda ?








Alkohol adalah senyawa organik yang mengandung satu atau lebih gugus hidroksil (-OH). Dengan demikian alkohol dapat dianggap sebagai turunan dari alkana dengan penggantian satu atau lebih atom H pada alkana oleh gugus - OH.
Berdasarkan jumlah gugus -OH yang terdapat dalam tiap molekulnya, alkohol dapat dibedakan :
  1. Alkohol monohidrik, yaitu alkohol yang mengandung satu gugus -OH.
  2. Alkohol dihidrik, yaitu alkohol yang mengandung dua gugus -OH.
  3. Alkohol trihidrik, yaitu alkohol yang mengandung tiga gugus -OH.
  4. Alkohol polihidrik, yaitu alkohol yang mengandung empat atau lebih gugus -OH
Alkohol monohidrik dapat dituliskan dengan rumus umum CnH2n+2O. Tetapi karena gugus fungsional pada alkohol monohidrik berupa gugus hidroksil (-OH),
maka rumus umum alkohol dapat dituliskan : CnH2n + 1 OH atau R - OH, dimana n ³ 1 dan R dapat berupa alkil, alkil tersubstitusi, dan alil.


Klasifikasi dan Tatanama Alkohol
Alkohol monohidrik dapat diklasifikasikan berdasarkan pada atom karbon yang mengikat gugus -OH, yaitu :
  1. Alkohol primer (10 ) adalah alkohol yang gugus - OH nya diikat oleh atom C primer, yaitu atom C yang berikatan dengan satu atom C yang lain.
  2. Alkohol sekunder ( 20 ) adalah alkohol yang gugus -OH nya diikat oleh atom C sekunder, yaitu atom C yang berikatan dengan dua atom C yang lain.
  3. Alkohol tersier (30 ) adalah alkohol yang gugus -OH nya diikat oleh atom C tersier , yaitu atom C yang berikatan dengan tiga atom C yang lain.

Contoh:

Tatanama alkohol
Untuk memberikan nama pada alkohol monohidrik, dikenal adanya tiga sistem tatanama, yaitu:
1. Tatanama Trival (tatanama Umum)
Menurut tatanama ini, alkohol diberi nama dengan terlebih dahulu menyebut nama gugus alkil yang mengikat gugus -OH, kemnudian diikuti kata alkohol yang ditulis terpisah. Kalau anda lupa dalam memberi nama gugus alkil ini, anda dapat melihat dan membaca kembali Modul-1 tentang isomeri dan tatanama.
2. Tatanama IUPAC (Tatanama Sistematika)
Tatanama ini pada dasarnya menggunakan aturan-aturan yang berlaku untuk memberikan nama pada alkana (anda dapat melihat modul-1 tentang isomeri dan tatanama). alkohol diberi nama dengan menganti akhiran -a pada alkana yang bersesuaian dengan akhiran -ol. Dalam hal ini pemerian nomor pada rantai karbon yang terpanjang dimulai dari ujung rantai yang letaknya paling dekat dengan atom C yang mengikat gugus -OH.
  1. Tatanama Karbinol
Menurut tatanama ini suku pertama dari alkohol monohidrik disebut karbonal. Dengan demikian untuk suku-suku yang lebih tinggi diberi nama sebagai turunan (derivat) dari karbinol. yang satu atau lebih atom H dari CH3 digantikan oleh gugus yang lain.
Sifat Fisik alkohol
a. Alkohol monohidroksi suku rendah (jumlah atom karbon 1-4 ) berupa cairan tidak berwarna dan dapat    larut dalam air dengan segala perbandingan.
b. Kelarutan alkohol dalam air makin rendah bila rantai hidrokarbonnya makin panjang.
c. Makin tinggi berat molekul alkohol, makin tinggi pula titik didih dan viskositasnya.
d. Alkohol yang mengandung atom karbon lebih dari 12 berupa zat padat yang tidak berwarna.
e. Alkohol suku rendah tidak mempunyai rasa, akan tetapi memberikan kesan panas dalam mulut.

permasalahan: pada suhu kamar alkohol dengan atom C1 sampai C4 berwujud gas atau cair sedangkan C5 sampai C9 berwujud cairan kental dan C10 keatas berwujud padat. apakah jika selain pada suhu kamar wujud alkohol itu sama,dan apa yang mempengaruhi alkohol sehingga pada suhu kamar wujudnya berbeda-beda ?